mungkin ternyata, untuk

menerima seseorang apa adanya

tidak semudah yang saya kita kira.

Advertisements

though you could keep repeating,

hoping for the best, but expecting the worst

but that doesn’t mean you could not get

disappointed.

I remember, some years ago, I was in my first serious relationship with someone. I was younger, -obviously-, back then. But one thing I just realized is that how naive I was in those times. I was oh so young and so foolish. I made many, many mistakes that somehow I felt like those years were the shittest part of my life.

There was one moment where I quite recall the moment when I was being so naive. This person I was having relationship with, he was not the best person with the best personality, no. He was full of bullshits and whatsoever. And yet, I loved him on that time. You know, when you love someone you tend to look at his/her on you best point of view. He/she always does the right thing, he/she does it because he/she loves you, blah blah blah. When you love someone you pretend that even if he/she does a very wrong thing, he/she must has good reason why he/she did it. Love makes you a fool. I was being made a fool because I was young and naive and I was in love.

That time, I got blackmailed by someone, that person was a girl. She sent me those prank text messages. She swore at me. She used those unkind language which I was not so getting used to hear, back then. She called me a slut and that I stole her boyfriend. What the fuck? Well, I was still this teenager back then so I cried, reading those messages I cried. I was so into the feeling “what did I do wrong?”, though now I know, not everything happens because we’re doing the wrong thing. Shit happens cos it fucking happens. Do not feel guilty if you know you don’t make a mistake. It’s simple, yet it’s hard for some people.

So after all those insignificant tears, I called my-so-called boyfriend. I wanted to tell him about this blackmailed thing. I wanted him to support me, like, “it’s okay dear I know you did not do it”, or.. you know.. those words. But instead, after I told him that she said about me stole her boyfriend, he said, “well, did you do it?“. You know, I was so fucking-broken-heart ed when I heard that. I was so damn naive I did not think that, well, the question was actually obvious to be asked. So someone said your boyfriend/girlfriend stole their girlfriend/boyfriend, the first thing you should make sure -of course- is the truth. Back then I thought when you love someone you are not supposed to ask about the ugly truth. Back then I thought love made everything right. Well then I was wrong.

I remember that naive me and I looked at myself today. Years after that moment, and I feel grateful that I am not that quite a fool anymore. I feel grateful I make friends to ones who have good minds and good hearts that I could, -say-, improve my way of thinking in life. Well, still, for a seventeen-year-old girl-not-yet-a-woman like me, this change could be something more. I hope I am on the right track. I know that I am on the right track, of my life.

P.S: About the one who sent me the prank messages, I met her like many months after that thing happened. Didn’t even know her, said she didn’t know me either (what the heck?). She said sorry, though. I didn’t give a shit about it.

sorry,
I just wanted to share it with you.
for a second I thought I was doing the right thing,
but then maybe I was not.
but then I probably made a mistake.
but then maybe you’ll think low of me.
but then maybe you felt that uncomfortable feeling against me (again).
and then it was my fault all over again.
is it the honesty that came late? though, really, it was an honesty after all?
I thought somehow you could appreciated it.
but then I probably made a mistake.
and I know these words just won’t do for you at times like these,
but still,
I love you.
I’m sorry.

sensitivity
just won’t do.

miss them

di antara semua yang saya rindukan saat ini,
hanya kamu

yang saya inginkan untuk berada di sini, saat ini.

Hari ini kebetulan jadwal kuliah saya hanya sampai setengah sepuluh. Keluar kampus jam setengah dua belas, jarang-jarang bisa sampai rumah dalam waktu setengah jam lebih sedikit. Seperti biasa, langsung duduk di depan komputer. Menghabiskan waktu berbincang di dunia maya dan kemudian menyelesaikan tugas. Selesai mengerjakan tugas, jam baru menunjukkan waktu pukul dua siang. Sementara saya sudah agak bingung dengan apa yang harus dilakukan, pacar saya di Jatinangor juga katanya baru selesai jam tiga dan pulsanya habis pula. Bingung lah saya akan apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur-tiduran sembari menunggu jam tiga (mungkin ketika itu saya bisa menelepon pacar saya).

Saya tidak benar-benar berniat untuk tidur siang, karena saya masih percaya bahwa tidur siang akan membawa mimpi buruk. Apalagi keadaan pikiran saya sedang tidak dalam kondisi rileks belakangan ini, sangat amat tidak mendukung. Maka saya matikan lampu kamar saya (dengan komputer masih menyala), dan berbaring sembari terpejam. Dalam terpejam itu pikiran saya masih berputar-putar. Entahlah, saya terbiasa memikirkan segala hal, sehingga kadang hal tersebut bisa jadi sangat mengganggu. Seringkali saya merasa mual dan pusing akan pikiran-pikiran mengganggu tersebut. Di tengah badai pikiran dalam terpejam itu tiba-tiba saya merasa pusing yang teramat sangat. Badan saya berguncang sendiri. Bahkan ketika saya akhirnya membuka mata, saya dapat merasakan tempat tidur saya dan beberapa barang yang menggantung di kamar saya bergoyang cukup hebat. Terdiam, saya masih berpikir apa saya mengalami brain malfunction sehingga badan saya bisa terasa seberguncang ini? Masih dalam keadaan bingung akhirnya saya keluar kamar, tanah masih bergoyang, namun pengurus rumah tangga saya tampak biasa saja. Baru beberapa saat kemudian guncangan itu berhenti dan saya mendengar ucapan tetangga-tetangga saya yang kini berada di luar rumah mereka. Gempa, kata mereka.

Gempa! Baru kemudian panik datang menghampiri, sementara gempa itu sendiri telah lewat. Cepat-cepat saya nyalakan TV dan ternyata benar, gempa sebesar 7,3 skala richter baru saja mengguncang Jakarta.. Pulau Jawa, tepatnya. Pusat gempa dikatakan berada di Laut Selatan, entah sedalam 30 km atau sejauh 30 km dari Tasikmalaya. Bulu kuduk saya berdiri karenanya. Belum lagi kata-kata berpotensi tsunami, yang sangat merisaukan. Otomatis tangan saya memijit speed dial untuk menghubungi ibu saya yang kantornya tidak berada di lantai dasar gedung dan yang berarti cukup mengkhawatirkan. Ibu saya baik-baik saja, alhamdulillah. Kemudian saya berusaha menghubungi pacar saya di Jatinangor (yang notabene-nya lebih dekat ke selatan Pulau Jawa) dengan rasa cukup khawatir. Saya cukup yakin ia baik-baik saja, namun tetap saya harus memastikan. Sementara itu jaringan telepon terputus. Berkali-kali saya coba, namun tidak juga berhasil. Hingga akhirnya saya menghubungi teman saya di Depok, Ramna, yang pacarnya juga berada di Jatinangor. Untungnya ia sebelumnya sudah berhasil menelpon pacarnya dan memberi tahu bahwa mereka yang di Jatinangor baik-baik saja. Saya merasa sedikit lega. Namun lega itu benar-benar datang ketika akhirnya saya berhasil mendengar suara pacar saya. Walaupun tampaknya ia tidak terlalu memikirkan bagaimana saya di sini -__- haha ah tapi ya sudahlah. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Tapi saya juga turut berduka cita atas korban-korban meninggal karena gempa hari ini.. Innalillahi wa innailaihi rajiun..

Beberapa saat setelahnya terdengar adzan Ashar dari masjid kompleks saya. Dan tanpa berpikir dua kali saya mengambil air wudhu dan sembahyang.

Tuhan, semoga sentilanmu kali ini membuat kami tersadar..

Saya tidak bisa tidur. Bukan, saat ini memang bukan malam hari. Waktu baru mendekati pukul empat sore. Saya ingin tidur karena seharian tadi lelah sekali. Menyanyi untuk para wisudawan, berjalan di antara sekian ribu orang, berdesakan, panas terik memanggang. Tepat sekali dijadikan cobaan bagi orang-orang yang tengah berpuasa. Kepala saya berdentum-dentum tanpa irama. Yang saya inginkan hanya tidur. Namun sesampainya di kamar pun tidur tidak terlaksanakan. Saya hanya berbaring menutup mata. Tidak terlelap satu detik pun. Tidak terlelap satu detik pun. Otak saya seakan tidak bisa berhenti bersuara. Saya seakan tidak bisa berhenti bersuara. Tidak ada yang tidak bisa tidak dipikirkan. Di antara semua itu saya memilih kamu. Saya mencoba menyuarakan kamu, kamu, dan hanya kamu. Agar pikiran-pikiran yang merisaukan itu bisa pergi, pergi, dan pergi.

Tapi lalu yang lain yang menyesakkan kembali tiba. Rindu itu kembali tiba. Dan ia masih menyesakkan. Ia bahkan semakin menyesakkan. Tidak boleh seperti ini, tidak boleh semenyesak ini. Harus membiasakan diri, harus terbiasa, karena itu satu-satunya cara.

Ya Tuhan… Tolong tenangkan saya.. Pikiran saya, hati saya.. Tolong, ya Tuhan.. Beri saya kekuatan..

Namun saya sedikit bersyukur tidak tertidur siang ini. Karena tidur siang biasanya mendatangkan mimpi buruk. Tidak, saya tidak butuh satu lagi mimpi buruk.

konfig

setelah kena serangan terik matahari & teriakan senior2, akhirnyaa!

Goresan tinta mulai mengisi lembar kehidupan yang baru. Bagaikan checklist kehidupan. SD, check. SMP, check. SMA, check. Kuliah…

Ada banyak ketakutan dalam diri saya, belakangan ini terutama. Tentang dunia baru dan segala keasingannya. Walaupun memang bukan yang pertama saya merasakan hal yang sama. Walaupun memang bukan yang pertama saya menghadapi tembok yang sama.

Baru kali ini saya merasa harus selalu mengingat apa tujuan saya sehingga saya berdiri di sini saat ini. Baru kali ini saya merasa sebegitu butuhnya akan dorongan orang lain dan di saat yang sama saya tahu saya harus sudah bisa berdiri sendiri. Baru kali ini mental saya serasa mengkhianati logika sendiri, karena jika bukan kata-kata seorang senior saya “Mahasiswa tidak menangis!”, pipi saya pasti sudah basah oleh air mata. Baru kali ini saya merasa kuat dan rapuh di saat yang bersamaan.

Dulu, sewaktu masa transisi saya dari SMP ke SMA, saya pernah mengirimkan e-mail kepada sahabat saya dari SMP tentang sulitnya hari-hari yang saya jalani ketika itu. Saya ingat sekali subject e-mail tersebut, karena kata-kata itu kembali muncul di otak saya belakangan ini.

Menjejak garis start, gak beranjak.

Namun tidak bisa lagi seperti itu. Tidak bisa lagi seperti itu. Tebing ini serupa dengan yang tiga tahun lalu saya temui, serupa tapi tak sama. Tak sama tapi saya kini lebih dewasa. Harus bisa. Lewati dengan tangan ini sendiri, lewati dengan genggam tangan mereka yang kini tak di sini. Jangan lepaskan, jangan pula terlalu lama menengok ke belakang. Ada semak belukar baru di depan sana, ada pula air terjun yang menyejukkan yang akan saya temukan di depan sana. Ada saya, kamu, mereka..

Waktunya hampir tiba.

Saya benci masa transisi. Mau itu transisi dari SMP ke SMA, ataupun yang sekarang ini sedang saya jalani.. SMA ke kuliah. Saya benci masa transisi. Di mana kata-kata

Dalam hidup, orang-orang datang dan pergi..

seakan terpampang jelas di depan mata saya. Seperti giant banner yang terpasang di depan muka saya sehingga percuma saja untuk memalingkan wajah ke arah mana. Saya benci masa transisi karena rasa kesepian itu kembali datang. Orang-orang terdekat saya kini terpisah jarak. Terpisah selat, terpisah jarak tempuh dua setengah jam (belum terhitung kemacetan). Mereka ada namun tidak dekat. Mereka dekat namun tidak di sini. Saya benci masa transisi karena semua terasa harus dijalani seorang diri. Karena semua menjalani hal yang sama sehingga untuk dibagi pun tidak enak rasanya untuk membebani orang lain. Saya benci masa transisi karena rasa rindu akan masa lalu itu akan mencekik begitu erat. Menarik-narik dengan paksa, menenggelamkan dalam-dalam. Saya benci masa transisi karena saya tidak bisa memeluk orang-orang baru yang saya temui, belum bisa memeluk mereka sementara saya butuh kekuatan saat itu juga detik itu juga. Saya benci masa transisi karena mau tidak mau yang saya miliki hanya diri sendiri. Yang saya miliki hanya diri sendiri. Yang saya miliki hanya diri sendiri.

Takut untuk maju, tidak bisa mundur. Tidak tahu harus bagaimana. Ingin melompat dan mendarat di zona nyaman itu lagi. Zona nyaman itu lagi.

Tweetverse!

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Who's peeking

  • 6,156 visit