You are currently browsing the monthly archive for August 2009.

Saya tidak bisa tidur. Bukan, saat ini memang bukan malam hari. Waktu baru mendekati pukul empat sore. Saya ingin tidur karena seharian tadi lelah sekali. Menyanyi untuk para wisudawan, berjalan di antara sekian ribu orang, berdesakan, panas terik memanggang. Tepat sekali dijadikan cobaan bagi orang-orang yang tengah berpuasa. Kepala saya berdentum-dentum tanpa irama. Yang saya inginkan hanya tidur. Namun sesampainya di kamar pun tidur tidak terlaksanakan. Saya hanya berbaring menutup mata. Tidak terlelap satu detik pun. Tidak terlelap satu detik pun. Otak saya seakan tidak bisa berhenti bersuara. Saya seakan tidak bisa berhenti bersuara. Tidak ada yang tidak bisa tidak dipikirkan. Di antara semua itu saya memilih kamu. Saya mencoba menyuarakan kamu, kamu, dan hanya kamu. Agar pikiran-pikiran yang merisaukan itu bisa pergi, pergi, dan pergi.

Tapi lalu yang lain yang menyesakkan kembali tiba. Rindu itu kembali tiba. Dan ia masih menyesakkan. Ia bahkan semakin menyesakkan. Tidak boleh seperti ini, tidak boleh semenyesak ini. Harus membiasakan diri, harus terbiasa, karena itu satu-satunya cara.

Ya Tuhan… Tolong tenangkan saya.. Pikiran saya, hati saya.. Tolong, ya Tuhan.. Beri saya kekuatan..

Namun saya sedikit bersyukur tidak tertidur siang ini. Karena tidur siang biasanya mendatangkan mimpi buruk. Tidak, saya tidak butuh satu lagi mimpi buruk.

konfig

setelah kena serangan terik matahari & teriakan senior2, akhirnyaa!

Goresan tinta mulai mengisi lembar kehidupan yang baru. Bagaikan checklist kehidupan. SD, check. SMP, check. SMA, check. Kuliah…

Ada banyak ketakutan dalam diri saya, belakangan ini terutama. Tentang dunia baru dan segala keasingannya. Walaupun memang bukan yang pertama saya merasakan hal yang sama. Walaupun memang bukan yang pertama saya menghadapi tembok yang sama.

Baru kali ini saya merasa harus selalu mengingat apa tujuan saya sehingga saya berdiri di sini saat ini. Baru kali ini saya merasa sebegitu butuhnya akan dorongan orang lain dan di saat yang sama saya tahu saya harus sudah bisa berdiri sendiri. Baru kali ini mental saya serasa mengkhianati logika sendiri, karena jika bukan kata-kata seorang senior saya “Mahasiswa tidak menangis!”, pipi saya pasti sudah basah oleh air mata. Baru kali ini saya merasa kuat dan rapuh di saat yang bersamaan.

Dulu, sewaktu masa transisi saya dari SMP ke SMA, saya pernah mengirimkan e-mail kepada sahabat saya dari SMP tentang sulitnya hari-hari yang saya jalani ketika itu. Saya ingat sekali subject e-mail tersebut, karena kata-kata itu kembali muncul di otak saya belakangan ini.

Menjejak garis start, gak beranjak.

Namun tidak bisa lagi seperti itu. Tidak bisa lagi seperti itu. Tebing ini serupa dengan yang tiga tahun lalu saya temui, serupa tapi tak sama. Tak sama tapi saya kini lebih dewasa. Harus bisa. Lewati dengan tangan ini sendiri, lewati dengan genggam tangan mereka yang kini tak di sini. Jangan lepaskan, jangan pula terlalu lama menengok ke belakang. Ada semak belukar baru di depan sana, ada pula air terjun yang menyejukkan yang akan saya temukan di depan sana. Ada saya, kamu, mereka..

Waktunya hampir tiba.

Saya benci masa transisi. Mau itu transisi dari SMP ke SMA, ataupun yang sekarang ini sedang saya jalani.. SMA ke kuliah. Saya benci masa transisi. Di mana kata-kata

Dalam hidup, orang-orang datang dan pergi..

seakan terpampang jelas di depan mata saya. Seperti giant banner yang terpasang di depan muka saya sehingga percuma saja untuk memalingkan wajah ke arah mana. Saya benci masa transisi karena rasa kesepian itu kembali datang. Orang-orang terdekat saya kini terpisah jarak. Terpisah selat, terpisah jarak tempuh dua setengah jam (belum terhitung kemacetan). Mereka ada namun tidak dekat. Mereka dekat namun tidak di sini. Saya benci masa transisi karena semua terasa harus dijalani seorang diri. Karena semua menjalani hal yang sama sehingga untuk dibagi pun tidak enak rasanya untuk membebani orang lain. Saya benci masa transisi karena rasa rindu akan masa lalu itu akan mencekik begitu erat. Menarik-narik dengan paksa, menenggelamkan dalam-dalam. Saya benci masa transisi karena saya tidak bisa memeluk orang-orang baru yang saya temui, belum bisa memeluk mereka sementara saya butuh kekuatan saat itu juga detik itu juga. Saya benci masa transisi karena mau tidak mau yang saya miliki hanya diri sendiri. Yang saya miliki hanya diri sendiri. Yang saya miliki hanya diri sendiri.

Takut untuk maju, tidak bisa mundur. Tidak tahu harus bagaimana. Ingin melompat dan mendarat di zona nyaman itu lagi. Zona nyaman itu lagi.

Tweetverse!

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Who's peeking

  • 6,127 visit