You are currently browsing the monthly archive for May 2008.
biar saya bicara pada mereka
pada pagarpagar kayu di pinggiran jembatan
pada mereka yang sejak subuh hingga tahajud menyapa
hanya menghirup desir bisikan lautan, menyampaikan keluhan
mengapa manusia begini, mengapa manusia begitu
mengapa kami diperlakukan jauh dari keuntungan yang mereka dapatkan
yang telah kami berikan
(tidak mereka bubuhkan tanda tanya
ada tidak ada toh sama saja
smua sudah jadi retorika dengan sendirinya)
telah saya bicara pada mereka
pada pagarpagar kayu di pinggiran jembatan
pada mereka yang sejak subuh hingga tahajud menyapa
hanya bersandar pada kelamnya harapan, keruhnya kehidupan.
030508
nadanada minor bersangkutan di udara.
saling menyikut satu sama lain. mendesak
satu sama lain.
menyesak.
hingga melankolia hampir menyusruk keluar mata.
berkaca pada dirinya.
kenapa kembali di jalan ini? lagi?
setapak yang serupa.. tapi tak.. sama.
ke mana perginya mimpi dengan akhir yang indah?
bagi saya.
mari kita ketik ulang ceritanya.
biar saya.
Bayangkan jika tidak ada tanda titik dan koma di dunia ini. Orang-orang hanya bisa bertanya-tanya dan menjawab dengan berseru-seru. Yang tidak bertanya, berseru. Yang tidak berkata, bertanya.
Titik tidak selalu merupakan akhir dari sesuatu. Titik membantu lahirnya kalimat baru. Titik mempertemukan bukan memisahkan. Titik saling merangkai bukan melepaskan. Titik adalah air hujan adalah air mata, jika kamu mengerti maksudku. Titik meneduhkan ‘i’ serta ‘j’ dari terik matahari. Titik menanti datangnya rangkaian kata yang menyapanya hingga tiba di penghujung hari. Di mana sebuah paragraf terhenti.
Sedangkan koma tidak merenggangkan tetapi menghubungkan. Koma merangkulkan kata dengan kata bukan menyendirikan. Koma menyatakan kebersamaan bukan perpisahan. Perpisahan hanya terjadi pada manusia, sedangkan kata dapat selalu menyapa. Jika kertas adalah bumi, maka huruf adalah manusia-manusia mungil yang tercetak di atas tanahnya, dan titik serta koma menjadi rumah yang menyatukan mereka dengan manusia lainnya dalam kata dan frasa.
Namun kata tidak merasa. Titik dan koma tidak merasa. Seru dan tanya tidak merasa. Adalah manusia. Mereka menitik, mengoma, menyeru, menanya. Mereka merasa.
‘Manusia’ adalah kata. Manusia bukanlah kata. Manusia hidup di dunia di mana ada titik dan koma. Sehingga mereka tidak hanya bisa bertanya-tanya dan berseru-seru. Sehingga mereka yang tidak bertanya, tidak selalu berseru. Sehingga mereka yang tidak berkata, tidak selalu bertanya.
Bayangkan jika tidak ada titik dan koma di dunia ini
Bintaro, 8 Juli 2007, 8:33 PM
saya menjadi tidak stabil..
tapi bukan labil.
mejadi peka pada halhal kecil yang tidak penting
dan mati rasa pada halhal lain yang lebih penting
seperti kemarin ketika melihat seorang autis di bioskop
tawanya mengundang senyum kecil di bibir saya, namun tidak dengan hati saya
atau buruhburuh pekerja yang mengangkat selang besar dari kerongkongan
trotoar dengan keringat mereka hingga tengah malam hingga
tubuh berkata “kami sudah lelah” maka mereka tidur di mana trotoar
di mana lantai di mana bangku kayu di mana tanah beralaskan koran dapat mereka temukan.
melihat mereka saya ingin menangis.
benar.
seperti sebuah rasa di dalam sini yang tak sabar ingin menangis tapi
tidak punya alasan yang cukup berarti untuk melakukannya.
apakah dia?
belakangan ini dia adalah alasan di balik semua tindakan saya
raut wajah saya gerak tubuh saya perkataan saya
perasaan saya
dia.
180408
jika bukan itu
maka apa?
tercekat. sejenak.
seperti lupa bahkan untuk menghirup udara
seperti hilang
seperti tenang
seperti menatap nyalang dalam kegelapan.
masih ada yang berdegup di dalam sana.
terceguk kecil.
langkah kaki.
jejak mata.
asal aku tahu kau ada di mana.
menapak!
terbang!
“bawa aku ke dalam”
tapi kamu menatap kosong ke luar jendela.
tidak lihat suatu apa..
tidak dengar segala apa.
apakah hujan membuyarkan segala di antara kita?
haha enam juni yang kita nanti
seperti anak kecil yang sembunyi di balik
simpangan yang akan kita lewati
sebentar lagi.
masih menyebut namamu,
sebentar lagi.
170408
Saya mau menikam semua hati di bumi
tanpa alasan yang jelas
menyodorkan bibir senapan berlaras.
Saya mau menikam semua puisi di buku ini
biar darahnya mengucur deras
memberi warna pada kanvas tak berparas.
tentang dirimu hanyalah hatiku bicara
tentang hatimu hanyalah denyarku berkata
tentang dunia, dalam dua hasrat yang menyatu di udara
dalam puisiku slalu ada tanda tanya
seperti Mon yang hidup di dalam Tanda Tanya
puisiku berpagarkan tanda tanya
puisiku berjendelakan tanda tanya
puisiku berpintukan tanda tanya
namun puisiku beratapkan dirimu, sayang
namun puisiku berdindingkan dirimu
di tiap sekatnya di tiap butir yang merekatkannya
dalam erat tak ada celah di tiap sekat
kecuali untuk memberi ruang pada hati yang terlelap
bagai Bulan yang tersadar dari mimpi
bagai Fantasi yang menemukan apa yang ia cari
“genggam tanganku dan bawa kuberlari”
biar rindu menguap jadi awan dan menitikkan kecupan
padamu.. padaku..
khayalku bertebar di atas rumput hijau yang kau genggam
atau menyerpih menjadi debu bintang yang menari riang
kerinduan… (engkau pergi, aku malah tak henti berpuisi)
kembali! biar puisiku yang pergi namun kau hadir di sini..
ternyata inspirasi adalah celah waktu yang tak kau isi
seperti mengalir deras, memenuhi ruang tempat kau biasa berada
yang kini kosong akan dirimu namun sesak akan puisiku
pecahan bola kaca menjadi sunyi di atas lantai
tidak ada darah, hanya resah
“kembali, sini. kembali. jangan lupa beserta matahari pagi.”
terlalu lancangkah aku berkhayal tentangmu, sayang?
aku takut. takutnya realita berkata sebaliknya.
karna telah membaca puisiku maka ia tak mau bertindak sama.
waktunya Tuhan datang..
“Tuhan, Tuhan, biarkan ia kembali dengan matahari paginya ya..
karna ketika Kau bicara maka itulah realita
yang tidak meniada.
maka.. Tuhan.. teduhkanlah hatiku serta hangatkanlah kasihku..”
seperti akan kuhangatkan matahari pagi yang ia bawa serta
dan kukecap lembut cahyanya stiap ketika.




